Selasa, 20 September 2016

Kubur itu dari sebagian taman surga atau lubang dari sebagian lubang neraka


Umar bin Abdul Aziz, salah seorang penguasa di antara penguasa-penguasa Dinasti Umawiyah, sebelum menjadi khalifah, setiap hari mengganti pakaian lebih dari satu kali. Ia memiliki emas dan perak, pembantu dan istana, makanan dan minuman serta segala yang ia inginkan.

Tapi, seperti dikisahkan Dr Aidh Al Qarni dalam bukunya 
Sentuhan Spiritual terbitan Al Qalam, ketika Umar bin Abdul Aziz memangku kekhalifahan dan menjadi penanggung jawab urusan kaum Muslimin, ia meninggalkan semua itu, sebab ia ingat malam pertama di dalam kubur.

 


  

Umar bin Abdul Aziz berdiri di atas mimbar di hari Jumat. Ia kemudian menangis. Ia telah dibaiat umat Islam sebagai pemimpin. Di sekelilingnya terdapat para pemimpin, menteri, ulama, penyair dan panglima pasukan.

Ia berkata, 
''Cabutlah pembaiatan kalian!''
Mereka menjawab, ''Kami tidak menginginkan selain Anda.''
Umar bin Abdul Aziz kemudian memangku jabatan itu, sedang ia sendiri membencinya.

Tak sampai seminggu kemudian, kondisi tubuhnya sangat lemah dan air mukanya telah berubah. Bahkan, ia tidak mempunyai baju kecuali hanya satu. Orang-orang bertanya kepada istrinya tentang apa yang terjadi pada khalifah.

Istrinya menjawab, 
''Demi Allah, ia tidak tidur semalaman. Demi Allah, ia beranjak ke tempat tidurnya, membolak-balik tubuhnya seolah tidur di atas bara api. Ia mengatakan, ''Ah, ah, aku memangku urusan umat Muhammad saw, sedang pada hari Kiamat nanti aku akan dimintai tanggungjawab oleh fakir dan miskin, anak-anak dan para janda.''
Salah seorang ulama berkata kepadanya, ''Wahai Amirul Mukminin. Kami melihat Anda di Makkah sebelum menjabat kepemimpinan, Anda berada dalam kondisi penuh nikmat, sehat dan bugar. Gerangan apa yang telah mengubah diri Anda?''

Umar bin Abdul Aziz kemudian menangis hingga tulang rusuknya nyaris terkilir. Umar berkata kepada ulama yang tak lain adalah Ibnu Ziyad.

''Wahai Ibnu Ziyad, bagaimana bila engkau melihatku di dalam kubur setelah tiga hari, satu hari aku melepaskan pakaianku dan aku berbantal debu, meninggalkan kekasihku, meninggalkan teman-temanku ? Bagaimana jika engkau melihat setalah tiga hari ? Demi Allah, engkau akan melihat pemandangan yang buruk!''

Maka, kita meminta kepada Allah SWT untuk mendapatkan perbuatan baik.

Aidh Al Qarni kemudian berkata,
 ''Demi Allah, seandainya seorang pemuda hidup seribu tahun dari umurnya dengan mengurusi urusannya, menikmati semua kelezatan selama seribu tahun itu, mencicipi kelezatan selama seribu tahun itu di dalam istana yang dihuninya, ia tidak akan terlena oleh bingung sepanjang hidupnya."

''Tidak, kebingungan itu tidak bisa ditolak dari dalam dadanya. Tidaklah semua kenikmatan selama seribu tahun itu cukup untuk memenuhi satu malam di dalam kuburnya,'' kata Aidh Al Qarni mengingatkan.
Utsman bin Affan ketika mendengar jenazah tersiar, ia menangis sampai pingsan sehingga orang-orang membawanya seperti jenazah ke rumahnya. Mereka bertanya kepadanya dalam satu kesempatan,''Apa yang terjadi padamu ?'' 

Utsman menjawab, ''Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,
 ''Kuburan itu tempat pertama di akhirat.'' Hadits Riwayat Ahmad.

Jika seorang hamba selamat darinya, maka sungguh ia sangat berbahagia. Tapi jika ia disiksa di dalam kubur, kita berlindung kepada Allah SWT, sungguh ia telah merugi di akhir keseluruhannya.

Aidh Al Qarni mengisahkan dalam bukunya Sentuhan Spiritual Aidh Al Qarni, 
''Kubur itu dari sebagian taman surga atau lubang dari sebagian lubang neraka. Jika ia baik, maka yang setelahnya merupakan yang terbaik di sisi Tuhan. Tapi jika buruk, maka setelahnya lebih menyengsarakan bagi hamba yang berpaling dari jalan Allah."

Aidh Al Qarni melanjutkan, Aku mendatangani kuburan, aku kemudian memanggilnya,
 ''Di manakah orang yang diagungkan dan orang yang dihinakan ? Mereka semua musnah, tiada pemberi kabar. Dan, mereka semua mati dan kabar itu pun mati."

Wahai orang yang bertanya kepadaku tentang orang-orang yang telah berlalu, tidakkah engkau mengambil pelajaran dari sesuatu yang telah berlalu. Anak-anak orang kaya itu pergi dan berlalu, maka keindahan bentuk itu pun dihapuskan.
Aidh Al Qarni mengisahkan, aku datang ke kuburan. Kuburan para pemimpin dan para bawahan. kuburan raja dan rakyat jelata, kuburan orang-orang kaya dan orang-orang miskin. Semua sama di sisi Allah.

Apakah Anda melihat kuburan yang unggul dari kuburan yang lain ? Apakah malaikat itu terjun ke dalam kubur yang terbuat dari emas atau perak ? Demi Allah, ia telah meninggalkan kerajaan, istana, tentara dan segala sesuatu yang ia miliki. Ia mengenakan sepotong kain, seperti yang kita kenakan. Dan, ia pun dikuburkan di dalam tanah.

''Wahai Anak Adam, ibumu telah melahirkanmu dalam keadaan menangis, sementara orang-orang di sekelilingmu, tertawa penuh  rasa bahagia. Maka, beramallah untuk dirimu agar engkau menjadi orang yang tertawa penuh bahagia ketika orang-orang di sekelilingmu menangis pada hari kematianmu.''

Di antara manusia, masih ada yang beramal untuk hari kematian itu. Mereka selalu siap untuk bertemu dengan Allah SWT. Mereka selalu mengamati detik kematian itu dalam setiap saat.

Semoga bisa menjadi renungan kita semua..
Bahwa maut bisa menjemput kapan saja.. 

Mari kita niatkan hidup ini hanya untuk ibadah kepada Allah swt sampai maut memisahkan kita.




Sumber : http://www.dokumenpemudatqn.com/

Jumat, 26 Agustus 2016

MENGGAPAI HIDUP MULIA TERNYATA TIDAK PERLU HARTA MELIMPAH, JABATAN TINGGI APALAGI KEKUASAAN

Sebentar lagi iedul qurban
Mari kit abaca kisah ini.
Semoga memberikan kekuatan kepada kita semua…
Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya :
       Seorang ibu dating memperhatikan dagangan saya.
       Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli.
Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya,

“Silahkan…Bu…”
Lantas Ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya,
“Kalau yang itu berapa, Pak ?”
“Yang itu 1.700.000, Bu”, jawab saya.
“Harga pasnya berapa pak ?”
Tanya kembali si Ibu…
“1.600.000 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah…”
“Tapi, uang saya hanya 1.500.000, boleh ya Pak ?” pintanya si Ibu…

Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan temannya sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu kepada ibu tersebut.

Saya pun mengantar kambing qurban sampai ke rumahnya.
Begitu tiba dirumahnya…
Astagfirullah…, Allohu Akbar…, terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu…

Rupanya ibu itu hanya tinggal ber-3 dengan ibunya dan puteranya di rumah gubug berlantai tanah. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot rumah mewah atau barang elektronik…yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

Di atas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus.

“Mak……., saya sudah belikan emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke masjid ya Mak…” kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

Si nenek sangat kaget, meski Nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, nenek berucap “Alhamdulillah…, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berqurban…”

Nih Pak, uangnya….. Maaf ya pak kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanyalah tukang cuci di kampung sini”.
“Saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya…..”, kata ibu itu.

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdo’a….”Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba… hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta, namun kekayaan imannya begitu luar biasa…”

“Pak, ini ongkos kendaraannya…panggil ibu itu”
“Sudah Bu,… biar ongkos kendaraannya saya yang bayar. “kata saya”.

Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau air mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabarannya, ketabahannya, dan penuh keimanannya ingin memuliakan orang tuanya…….

“Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi, apalagi kekuasaan.

Kita bisa belajar dari keikhlasan dari ibu ini untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja enggan berkurban, padahal bisa jadi Harga HP, Arloji, Tas, ataupun aksesoris yang menempel ditubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban”.

Namun selalu kita sembunyi dibalik kata “Tidak mampu”, atau “Tidak dianggarkan”.

Semoga bermanfaat…

Semoga kita di kuatkan untuk Qurban tahun ini…Aamiin…


Kamis, 25 Agustus 2016

HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN

Ulama Abu Abdullah Bin Al-Mubarok Al Hanzhali Al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.
Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :
“Berapa banyak yang dating tahun ini ?’’
Tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,’’ jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima ?’’
“Tidak satupun’’.

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

“Apa ?’’
Ia menangis dalam mimpinya.
“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia ?’’

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.’’

“Kok bisa’’
“Itu kehendak Allah’’
“Siapa orang tersebut ?’’
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)’’

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hamper semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota’’
Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah ?’’ Tanya ulama itu
“Betul, siapa tuan ?’’
“Aku Abdullah bin Mubarak’’

Said pun terharu, “Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya ?’’

Sejenak Ulama itu kebingunan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur ?‘’

“Wah saya sendiri tidak tahu!’’
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita…
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka, la syarika laka.”

Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya Allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat Ka’bah.
Ijinkan aku datang…
Ijinkan aku datang ya Allah…

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.

Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk berhaji.

“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi ?”
“Istri saya Hamil, dan sering ngidam.
Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini ?
“Ya sayang”
“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini.
Mintalah sedikit untukku”.

“Ustad, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.”

Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit

Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulanginya perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang air mata.

Akhirnya saya Tanya kenapa ?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini HALAL untuk kami dan HARAM untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya :
Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim ?

Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa ?”
“Sudah berapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.

“Bagi kami daging ini adalah Halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini Haram”.

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.

Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.
“ni masakan untukmu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirha pun saya berikan pada mereka.
“Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga.”

Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah…….disinilah Hajiku
Ya Allah…….disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut
Abdullah bin Mubarak tak bias menahan air matanya.

Kisah ini member Hikmah, bahwa membantu orang disekitar kita bias jadi sama nilainya dengan pergi Haji di mata Allah.

Buat yang akan naik haji …….
Atau yang sudah berhaji …….

Saudaraku ……. Ingat …

Ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia !
Yakni : Masa Muda dan Kekuatan Fisiknya.

Jangan lupa…Ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang !
Yakni : Budi pekerti yang luhur serta jiwa yang ikhlas memaafkan.

Perhatikan…Ada dua pula yang akan mengangkat derajat kemuliaan manusia !
Yakni : Rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain.

Dan ada dua yang akan menolak datangnya bencana !
Yakni : Sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim.


Semoga kita menjadi orang-orang yang dimuliakan Allah swt. Aamiin…